Artikel

Memaknai Hari Peringatan Pemberontakan PETA sebagai Cermin Nasionalisme Kritis

Memaknai Hari Peringatan Pemberontakan PETA sebagai Cermin Nasionalisme Kritis

(Rangga, Staff KPU Provinsi Papua Barat)

Hari Peringatan Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga momentum untuk merefleksikan makna nasionalisme yang lahir dari keberanian dan kesadaran kolektif. Pemberontakan PETA menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan tidak bisa dibendung, bahkan ketika bangsa ini masih berada di bawah pendudukan Jepang.

Sejarah mencatat, PETA dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai kekuatan pertahanan lokal. Namun ironi sejarah terjadi ketika pasukan yang dibentuk untuk membantu kepentingan penjajah justru berbalik menentang ketidakadilan dan penindasan. Di sinilah letak nilai pentingnya nasionalisme sejati tumbuh bukan karena perintah, melainkan karena kesadaran moral terhadap penderitaan rakyat.

Bagi penulis, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau sekadar mengenang tokoh. Hari ini perlu dimaknai sebagai pengingat bahwa keberanian mengambil sikap adalah bagian penting dari karakter bangsa. Generasi muda perlu melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai catatan di buku sejarah, tetapi sebagai inspirasi untuk berani bersuara terhadap ketidakadilan dalam bentuk apa pun, baik sosial, politik, maupun ekonomi.

Sayangnya, sering kali peringatan sejarah hanya berhenti pada upacara dan pidato formal. Padahal, nilai perjuangan seperti keberanian, solidaritas, dan cinta tanah air perlu terus dihidupkan dalam tindakan nyata. Tantangan bangsa saat ini mulai dari korupsi hingga perpecahan sosial membutuhkan semangat persatuan yang sama kuatnya seperti yang ditunjukkan para pejuang PETA

Namun, refleksi juga perlu dilakukan secara kritis. Pemberontakan PETA menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan memiliki banyak wajah dan tidak selalu berjalan mulus. Ada dinamika, risiko, bahkan pengorbanan besar yang mungkin tidak selalu berujung pada kemenangan langsung. Dari sini kita belajar bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang berani.

Di tengah tantangan zaman modern, globalisasi, polarisasi sosial, hingga lunturnya nilai kebangsaan, Hari Peringatan Pemberontakan PETA seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat kembali komitmen terhadap persatuan dan keadilan. Nasionalisme hari ini bukan lagi tentang mengangkat senjata, tetapi tentang menjaga integritas, memperjuangkan kejujuran, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Akhirnya, memperingati pemberontakan PETA berarti menghormati keberanian masa lalu sekaligus meneguhkan tanggung jawab masa kini. Semangat perlawanan terhadap penindasan harus terus hidup, bukan dalam bentuk konflik, melainkan dalam dedikasi membangun Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 93 kali